Terinfeksi Virus Merah Jambu 20 Januari 2009
Posted by berbagipengetahuan in Uncategorized.trackback
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Jadikan cintamu untuk ALLAH dan Rasul-NYA
Afwan ustadz, mungkin saat ini aku lagi kejebak VMJ (Virus Merah Jambu/kasmaran). Aku akui memang salah telah memberikan peluang itu sendiri. Tapi saat ini aku sadar bahwa itu adalah suatu kesalahan. Sekarang di saat aku pengin melepaskan diri dari VMJ itu sangat sulit. Perlu diketahui bahwa setelah VMJ ini hinggap, aku jagi ngga semangat untuk apa-apa. Malas untuk ngapa-ngapain dan banyak gangguan lain.
Mohon ustadz memberikan solusi yang jitu untuk aku yang lagi pengin kembali ke jalan yang benar.
Aan di B
Wa ‘alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Saya sering mendapatkan pertanyaan serupa, dengan keragaman yang masya ALLAH banyaknya. Masing-masing punya titik pokus yang berbeda-beda. Namun satu kata putus dari saya untuk menghadapi seluruh persoalan hidup adalah “jangan biarkan diri hidup dengan perasaan. Tapi jadikan perasaan sebagai motivasi dalam hidup”.
Artinya begini, masa remaja memang masa pergolakan perasaan. Namun sayang, kebanyakan remaja hidup dengan bayang-bayang perasaan mereka. Mereka selalu membayangkan sosok-sosok tertentu sebagai vigur dalam dalam hati mereka , meski mereka terlalu yakin tak akan bisa menjadi seperti para tokoh itu. Pertama, mungkin karena tidak memiliki kapasitas untuk itu. Kedua, mungkin bukan soal kapasitas , tapi karena memang para tokoh itu memang hayalan, atau kalaupun betulan, mereka berbeda agama, berbeda budaya, dan berbeda dengan kita dalam segalanya. Kita tak mau jadi mereka dalam kenyataan, tapi kita senang membayangkan diri menjadi mereka. Lho, kok bisa? Itulah makna hidup dengan perasaan.
Sementara dalam banyak hadis Nabi shallallahu ‘alalihi wa sallam telah menegaskan, bahwa orang yang lemah itu adalah orang yang dibuai oleh angan-angannya. Akhirnya, hanya memperturutkan hawa nafsunya. Orang yang kuat, yang mempu menguasai hawa nafsunya, dan hanya bekerja untuk hari sesudah mati (hari sesudah dibangkitkan nanti).
Praktisnya begini. Soal remaja yang terjebak virus ‘Merah Jambu’ itu, itu wajar, terutama di masa sekarang ini, dengan lingkungan yang melingkari kita sekarang ini. Tapi wajar bukan berarti boleh, lalu dibiarkan begitu saja. Sama dengan anak kecil yang wajar kalau terjatuh dan berdarah, tapi jangan membiarkan anak kecil jatuh, atau bahkan menyetting dengan sengaja agar anak kecil itu terjatuh, lalu dibiarkan berdarah.
Wajar, bila virus itu mampir di hati akhi (kamu) sekarang ini. Itu naluri kok. Seperti halnya orang puasa merindukan makanan dan minuman, wajar aja. Tapi karena dia belum halal, jangan menikmatinya. Berusahalah secara keras untuk tidak hidup dengan perasaan, bahwa yang dirasa bukan harus menjadi kenyataaan. Tepis perasaan itu sekarang, juga, one, two…..ya!
Think big, begin small, dan, start now! Mulai dengan hal yang kecil, untuk sebuah cita-cita besar. Kamu adalah seorang muslim, yang harus berbakti kepada kedua orang tua, suatu saat akan menjadi suami, akan menjadi bapak, akan menjadi juru dakwah, dan seterusnya. Banyak tugas yang harus dipikul. Jangan terjatuh hanya karena persoalan kecil yang dibesar-besarkan. Tapi, tak ada waktu untuk menimbang-nimbang dan berpikir. Sekarang juga enyahkan segala bentuk perasaan yang tidak sehat, apalagi sampai mengganggu segala-galanya. Segera galang cita-cita. Jadikah ‘love’ kamu untuk segala tugas yang ada di depan mata. For the first, love your god. Love your prophet. Love your parent. Love your religion. Love your duty. Love, love, dan seterusnya. Masih banyak yang membutuhkan cinta kita bukan? Bila semua cinta itu diberikan secara sempurna, betapa indahnya hidup ini. Cinta hanya kepada seseorang , yang belum hala lagi, mana bisa mengalahkan kecintaan kita kepada itu semua?
Saudaraku…hiburlah diri dengan kecintaan kepada akhirat. “Negeri akhirat itu, kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa” (surat Al Qashash ayat 83).
Perlu dicatat, manusia-manusia terbaik, seperti Yusuf alaihis salam, dan Umar bin Abdul ‘Aziz, juga pernah mengalami cinta kepada wanita yang belum halal sebagai isterinya. Tapi, mereka mampu meredam cinta tersebut, sehingga hanya menjadi onggokan rasa yang tak mengusik sedikitpun ibadah dan ketakwaan mereka.
Sebenarnya kita menjadi terganggu, karena kita tidak mau mengolah perasaan, tapi lebih memilih digiring oleh perasaan. Arti managemen hati adalah menciptakan kemampuan untuk mengolah hati. Saat sedih, olah hati menjadi gembira. Saat marah, olah hati agar tercipta kesabaran. Saat malas, olah agar beremangat, begitu seterusnya. Karena sifatnya mengolah, maka harus diniatkan dan diusahakan. Sehingga penentu kebaikan itu –setelah ALLAH Yang Maha Kuasa- adalah diri kamu sendiri, bukan siapa-siapa. Artinya, apakah kamu mau menjadi raja atas hati kamu sendiri, atau justru menjadi budak hati?
Seorang aktor tentu ahli mengolah hati. Tapi sayang, itu hanya untuk sebuah lakon kosong. Kalau saja kamu mampu mengolah hati bagai seorang aktor terkemuka, tentu SANDIWARA LANGIT dalam kehidupan ini, akan dapat kamu perankan dengan sebaik-baiknya. Kamu akan mampu menguasai hati dan perasaan, bukan justru ditundukkan oleh hati dan perasaan.
Saudaraku, hidup ini memang permainan, tapi permainan yang ALLAH tegaskan berulang-ulang dalam Al Quran ini, berujung pada keabadian; surga atau neraka, bila sudah sadar bahwa kamu sedang mengejar surga, dan takut terhadap neraka, layakkah masih ada perasaan yang membuat kamu tidak tidak berdaya? Mulai, dan bertawakkallah kepada ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. BISMILLAH
Ditulis ulang dari Majalah Elfata, Edisi 11 vol. 08-2008 oleh Al Faqir ila ALLAH Ibnu Mukhtar


Komentar»
No comments yet — be the first.